Kepada Hamba Allah A:
Ku kini dahaga seluruh rautmu
yang seringkali tergaris sebuah senyuman ikhlas
Ku tangis mendamba suaramu
yang tak putus menghambur tawa
dan senda yang menyinari hari-hariku
Ku perit mengemis lunaknya kekatamu
yang sering terngiang senasihat dua tanpa jemu
terucap hikmah yang tiada banding
hanya untuk membimbingku
Setiap detik
ku lihat namamu terpancar di ruang mataku
ku saksi lirikan yang menggetar naluri
ku harap kehadiran yang tiada tukar ganti
ku terdengar suara mengasyikkan diri
ku berpaling kecewa sekali lagi
Segalanya kini lenyap dari ruang mata
ibarat suatu mimpi yang berlalu pergi
dan sedihnya memeritkan
Di luar capaian tanganku dirimu
terasa sepi sunyi hidupku kini
tanpa bernaung di bawah sesusuk tubuhmu
yang mengerti hati ini
Entah bila 'kan kita ketemu lagi
supaya dapatku bertukar senda denganmu
supaya dapatku tertawa lagi
supaya dapatku kongsi pengalamanku
supaya dapatku sematkan cinta lagi
Aku akan menunggu
Setia menanti.
Kepada Hamba Allah B:
Ku tunggu warkah ringkasmu setiap saat nafasku
yang selalu berjaya menampal segaris senyuman
ke wajah aku yang sering bertukar sugul
Setiap kali ku terima warkahmu
hidupku kembali terpalit warna-warnanya
terdengar kicauan burung dan bahangnya mentari
indahnya kembali bumi yang sepi
Warkah-warkahmu tetap semat ku simpan
menjadikan ia kenangan pegangan jiwa
Ditatapi setiap malam di bawah panahan cahaya purnama
sebagai perangsang hidup hari kemudian
Ku tunggu-tunggu dengan hati yang berdebar
entah mengapa warkahmu itu juga yang ku damba
Meski sering berbalah 'tika bertemu
Namun pabila berjauh
benci bertukar menjadi rindu
Akan ku tunggu warkah seterusmu
supaya boleh ku ingat kembali
bagaimana gembiranya rasa hatiku
kala tersenyum lagi
No comments:
Post a Comment